Hai gaes. Ini blog pribadiku. salam kenal

Rabu, 30 Juli 2014

Antologi Puisi Ramadhan



Surat Suci

Tlah kutulis pesan di hamparan pasir
Di antara deburan angin gurun
Bagimu – bagiku
Kisah memori kita
Kedatanganmu bak mukjizat
Sekali setiap tahun, saat alam merona dengan sambutan takbir
Mengubah sisa bulan menjadi kegembiraan
Hapuskan belenggu rantai noda
Bagimu – bagiku
Surat suci ini adalah pengikat
Untuk pertemuan selanjutnya
Suatu saat, kau akan menemuiku dalam wujud kebaikan

Setangkai Ranting Kurma

Setangkai ranting kurma menengadah ke langit
Diamnya mencumbu sengatan cahaya lembut
Mengalirkan embun disela jari kehidupan
Ia berbisik, Akankah saatnya tiba?
Panji-panji hitam tlah bersorak riuh
Ini saatnya! Rumput pun memuja
Kuda perkasa tlah dipasang
Bertempur membunuh nafsu hitam
Setangkai ranting kurma menjulur
Mengalirkan embun disela jari kehidupan
Ia berbisik,
Bersiaplah menjemput tebusan amalmu

Amplop

Sepucuk amplop putih tergeletak
Di bawah bayang-bayang sisa sinar fajar
Aroma kasturi sampaikan salam surga
Menggoda di setiap lubang hampa
Sepucuk amplop putih tergeletak
Kabarnya membawa berita gembira
Tentang malam seribu bulan
Dan pedoman bagi para ingsun
Sepucuk amplop putih tergeletak
Kusentuh dengan naluri hati
Menyusuri jalinan kata yang terukir
Memahat setiap dinding alam bawah sadarku

Diikutsertakan dalam event Antologi Puisi Islam FAM "Ramadhan Bulan Yang Menginspirasi"

Selasa, 29 Juli 2014

Kata Mutiara Lebaran 1435 H

( I ) Kunci Keberkahan Ramadhan dan Kebaikan hidup adalah menjaga lidah dan hati.

( II ) Ramadhan adalah bulan dimana bibir basah dengan dzikir, mata terjaga melihat kebesaran-Nya, telinga mendengar ucapan terpuji dan hati yang selalu hidup dan terjaga dari noda. Tak ada kata terlambat untuk kebaikan.

( III ) Ketika hubungan itu renggang, maka menyambung Silaturrahim adalah jalan terbaik satu-satunya. Percayalah, bahwa Silaturrahim melembutkan hati siapapun.

( IV ) Sikap Memaafkan itu sesungguhnya mendamaikan hati dan memuliakan diri kita, BUKAN merusak harga diri.

Diikutsertakan dalam event Lomba Menulis Kata Mutiara FAM (28-07-2014)

Kamis, 12 Juni 2014

CERPEN_Jeritan Ciliwung



“Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang mas intanya terkenang. Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang susah, merintih dan berdoa”

Najwa tersengal-sengal. Nafasnya meramaikan suasana senja di perkampungan Ciliwung yang sempit. Ia tak bisa mengimbangi kelihaian Yoga berlari yang melesat bagai laju busur anak panah. Areal perkampungan itu sangat sempit, diapit rumah-rumah kecil berukuran 24 x 15 m2 yang saling berdempetan tanpa ada celah di antaranya. Kubangan-kubangan yang membentuk kawah menghiasi jalanan perkampungan itu membuat sepasang sepatunya penuh goresan lumpur. Hujan baru saja berhenti.
Sauna alam sore telah membakar lemaknya dan berhasil menghasilkan cucuran keringat di peluhnya. Alunan suara mesin pabrik membentuk simfoni sore. Yoga berlari semakin jauh. Langkahnya memecah kubangan-kubangan kecil yang ada dihadapanya. Sudah beberapa bulan ini ia kehilangan rasa lelah.
Hentakan kaki gadis itu tiba-tiba berhenti. Nafasnya memburu, jantungnya berdegup tanpa ritme yang jelas. Ia bertopang pada tangan kananya yang disandarkan pada sebuah bilik kayu tak berpenghuni. Tangan kirinya masih memanggul tas yang berisikan laptop dan obat P3K. Bayang-bayang Yoga semakin samar. Sebetulnya ia cukup tahu jalan tapi ia tak pernah berlari secepat ini sebelumnya. Ia hanya berharap ketika Yoga meninggalkanya ia tidak tersesat pada rumah korban yang akan dituju.
Najwa melirik jam tanganya, pukul lima sore. Siluet cahaya merah di langit senja pasca hujan menyisakan lukisan indah Sang Maha Pencipta. Suatu keindahan agung yang mungkin tak dapat dinikmati semua manusia, bahkan orang kaya sekalipun. Itulah yang membuat Najwa begitu menghargai akan kesehatan dan masa muda sehingga menggerakkan hatinya menjadi volunteer sebuah organisasi ekstrakampus yang bergerak dibidang sosial.
Awal mula pertemuanya dengan Yoga, anak seorang kuli bangunan berumur sebelas tahun, cukup singkat. Saat ia berserta rekan se-organisasinya mengadakan sebuah acara amal sederhana di kawasan Ciliwung, Najwa menangkap sesosok anak kecil berpakaian lusuh tanpa alas kaki duduk terdiam di atas batu besar. Kemudian ia mendekati anak itu dan terjadilah percakapan yang akhirnya menjadikan mereka akrab, layaknya kakak dan adik. Disela-sela kesibukanya sebagai mahasiswi akademi perawatan salah satu universitas ternama di Jakarta, Najwa kerap membantu warga Ciliwung yang masih belum mau terbuka dengan pemerintah.
Tiba-tiba sebuah tepukan lunak mendarat di tangan Najwa, menyadarkanya dari lamunan. Rupanya Yoga sadar telah meninggalkan gadis itu.
“Maafkan aku, Yoga. Aku lelah sekali,” ujar Najwa meminta pengertian.
“Baiklah Kak, tak mengapa,” jawabnya sambil tersenyum. Nafasnya masih tersengal-sengal, lucu. Peluh di dahi anak itu seketika berubah menjadi lem yang melekatkan barisan rambutnya di dahi. Ia kembali tersenyum pada Najwa.

Rumah warga yang dituju tepat di pesisir sungai Ciliwung. Saat Najwa dan Yoga datang, sekitar dua puluh orang telah memenuhi ruang tamu rumah itu yang sempit. Beberapa suara tangis ibu-ibu bersautan. Toni, remaja yang terbujur lemas di atas dipan ruang tamu meringkik lemah. Tubuhnya kurus kering dibalut selendang coklat batik menutupi luka-luka di kulitnya. Tampak seorang laki-laki bersongkok hitam membacakan doa dan seorang ibu yang mengompres kepalanya.
“Kak, Toni adalah korban dari Sungai Ciliwung ini,” bisik Yoga. Najwa mengangguk pertanda mengerti. Dalam hatinya bergemuruh menyuarakan perasaan marah dan geram atas peristiwa ini. Ia bahkan tak sampai hati melihat keadaan Toni, salah satu adik didikanya yang berjuang hidup disisa-sisa nafasnya. Najwa prihatin jika harus kehilangan tawa canda mereka akibat dosa yang tak pernah mereka buat sebelumnya.
Di sisi lain, kebiasaan warga yang menggunakan air Sungai Ciliwung cukup membuatnya mengelus dada. Bagaimana tidak, mereka sepertinya sudah terbiasa melakukan segala aktifitas kerumahtanggaan mulai mandi, mencuci, memasak air menggunakan air tersebut. Maklum, harga air bersih di Ciliwung lumayan mahal sekitar Rp 3.000 – Rp 4.000 per jerigen. Inilah alasan yang membuat warga yang notabene berprofesikan kuli mengambil pilihan ini.
Bisik-bisik warga kemudian menjadi ramai. Seseorang dari mereka berkata, “Menurut ketua di kampung ini, Sang Raja Air murka. Hukuman ini akan terus berlangsung selama limbah-limbah pabrik itu masih dibuang di sungai dan begitu juga dengan sampah-sampah manusia yang ada di sungai ini. Toni bukanlah korban pertama dari wabah ini. Sebelumnya sudah ada 4 pemuda dan 6 orang tua meninggal akibat penyakit kulit aneh dan keracunan, serta belasan lainya terkena gangguan pernapasan,”
“Bagaimana dengan pemerintah dan kecamatan di kawasan ini?”
“Akibat krisis dan kemalangan yang dialami bangsa ini, kini warga kehilangan kepercayaan mereka pada pemerintah. Mereka tak berani memanggil dokter atau membawa korban ke puskesmas karena takut jika ditagih biayanya,” sahut warga lain yang tiba-tiba menyembul dari kerumunan.
Najwa tertegun. Begitu kompleks persoalan bangsa ini. Mulai dari atasan yang mengemis kepercayaan hingga warga yang sudah kehilangan kepercayaanya. Najwa teringat sebuah slogan yang pernah ia baca tertempel di salah satu rumah sakit yang berbunyi, “Orang miskin dilarang sakit.” Bagaimana mereka tidak sakit jika para penguasa, pemilik perusahaan-perusahaan tidak mengolah limbah-limbah mereka menjadi sesuatu yang lebih berguna, malah sebaliknya mencemarkan lingkungan? Apa gunanya CSR jika perkara-perkara lingkungan seperti ini masih tetap ada dan belum teratasi?
Toni hanyalah salah satu dari sekian korban yang terjebak dalam hal yang mematikan dan belum terekspos ke media. Hingga bulan Maret 2014, sebanyak 80% sungai di Indonesia telah tercemar logam berat akibat limbah pabrik dan limbah manusia yang dibuang sekenanya. Akibatnya, sungai-sungai tersebut mengandung arsen, mangan, aluminium dan kadar merkuri yang sangat tinggi. Logam berat inilah yang membunuh mereka.
Dari jauh, Toni memberi isyarat pada Najwa untuk mendekat. Matanya menatap dalam-dalam pada Najwa.“A-aku tak ingin mati,” bisiknya terbata-bata. Bongkahan air mata pecah dari kelopak keduanya.
“Bertahanlah Toni, aku akan segera mencari pertolongan. Bertahanlah!” ujar Najwa meyakinkan sambil mengusap air mata Toni. Kemudian ia keluar diikuti Yoga.

Najwa memandang langit lekat-lekat. Dihirupnya udara yang bercampur karbondioksida yang menyembul dari corong-corong raksasa pabrik. Pikiranya menerawang. Seseorang harus memperjuangkan ini, batinya. Seperti sudah mampu menebak apa yang dipikirkan Najwa, Yoga angkat bicara.
“Apa kakak yakin memperjuangkan hal ini?”
Najwa menoleh, mendesah panjang. “Ya, aku yakin. Tanpa ragu lagi, setelah ini aku akan menulis artikel tentang ini. Aku bersama kawan-kawan organisasi akan membuat gerakan semacam save our earth atau save our environment. Kau tahu, di beberapa daerah gerakan semacam ini cukup efektif mendobrak pemerintah dalam hal pemeliharaan kesehatan dan lingkungan khususnya di kawasan Ciliwung tempat kita berpijak saat ini. Selain itu, dengan adanya gerakan ini kita melibatkan diri kita, warga masyarakat bahkan pemerintah dan kalangan eksekutif bisnis lainya untuk berempati pada lingkungan dengan tidak membuang sampah apapun bentuknya ke sungai,”
Yoga mengangguk pelan. Tapi dari sorot matanya timbul harapan besar pada Najwa. Najwa kini bukan orang asing lagi baginya. Setelah Emak dan Bapaknya meninggal tiga bulan yang lalu, ia tidak memiliki keluarga lagi di tanah Ciliwung ini. Semua sanak saudara telah pergi merantau sejak Yoga masih berumur lima tahun. Keberadaan Najwa seperti obat penghibur laranya. Ia diajari membaca, menulis dan mengaji. Cita-citanya sederhana, menjadi pegawai Dinas Lingkungan agar mempunyai kekuasaan menjaga dan membersihkan oknum-oknum yang membuang limbah di Sungai Ciliwung.
“Are you ready to action?” Najwa mengulurkan tanganya yang terbuka pada Yoga. Dengan girang dan bersemangat, Yoga, si pemuda Ciliwung yang bermimpi menjadi pegawai Dinas Lingkungan menyambut uluran tangan Najwa, lalu menggenggamnya sambil memekik,
“Yes!”
Di bawah bayang-bayang sisa sinar senja, keduanya berlari menembus zona waktu tak terbatas. Pancaran harapan dan semangat menerangi derap langkah mereka. Suara gelak tawa bercampur nyanyian kodok menggema, mengiringi di antara deretan rumah tua yang hampir menyentuh tanah. Kini tiba saatnya, siapa pun kita sadar untuk bertanggungjawab pada lingkungan yang memberi kita kehidupan. Let’s save our environment.

Kamis, 09 Januari 2014

Euforia 2014



Menyikapi Perayaan Tahun Baru 2014: Solusi Praktis Meminimalisir Korban Tahunan Di Malam Tahun Baru

Ada hal yang menggelitik saat detik-detik menjelang pukul 00.00 tanda permulaan tahun baru 2014. Seorang teman dekat saya memposting status terbarunya di situs jejaring sosial Facebook.

“Masya Allah, saya kira rumah diserang NUKLIR!
ternyata 4 menit lagi ganti tahun (ampun dah),”

Sepenggal kalimat yang mewakili gambaran umum perayaan tahun baru di lingkungan sekitar kita. Perayaan yang selalu dipenuhi dengan rutinitas begadang, meniup terompet, menyulut petasan dan kembang api, pesta alkohol, pesta maksiat (seks), konser musik dan berbagai jenis perayaan lainya yang lebih banyak mendatangkan mudharat ketimbang manfaatnya. Walaupun tak sedikit dari warga yang merayakan tahun baru masehi ini dengan muhasabah, istighasah dan dzikir akbar, akan tetapi jumlah ini masih terkalahkan oleh jumlah warga yang merayakanya dengan cara jahiliy.
Di beberapa media, baik virtual maupun non virtual banyak kita dapati berita mengenai korban yang celaka dan meninggal saat perayaan pergantian tahun baru 2014. Di Australia, 100 remaja diamankan oleh petugas akibat perilaku buruk yang disebabkan oleh pengaruh alkohol. Di Manila-Filipina, sekitar 253 orang dilaporkan terluka akibat kembang api dan 8 orang terkena peluru nyasar. Sedangkan di Indonesia sendiri dikabarkan ada 21 kasus pencopetan, sekitar 20 orang lebih korban petasan dan 3 lainya meninggal akibat minum bir oplosan. Jumlah korban dari ketiga negara ini belum dikalkulasikan dengan jumlah seluruh korban perayaan pergantian tahun baru di seluruh dunia.
Tanpa disadari
Melihat jumlah korban yang sangat mengesankan ini, pemerintah dan warga dunia sesunggunya dituntut untuk lebih bijak dalam menyikapi pergantian tahun baru dan lebih memahami makna pergantian tahun baru itu sendiri. Peristiwa pergantian tahun baru adalah fenomena sesaat yang memberikan kenikmatan dalam hitungan menit. Itulah mengapa secara tidak sadar manusia menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk membeli pernak-pernik perayaan tersebut.
Alangkah sia-sianya uang yang dikeluarkan untuk membeli petasan yang ujungnya hanya menambah jumlah volume kertas di jalanan.
Pada hakikatnya, bukanlah perayaan itu yang terpenting, melainkan bagaimana setiap manusia menata ulang sikap dan mentalnya untuk memasuki tahun baru. Artinya, setiap individu haruslah ber-muhasabah/introspeksi diri di tahun sebelumnya dan kemudian menentukan visi dan misi yang akan dicapai pada tahun yang baru. Pergantian tahun baru haruslah diikuti dengan semangat perbaikan diri dan pematangan konsep program masa depan yang akan dijalankan agar pada tahun baru tersebut diri kita lebih bermanfaat.

Sumber Data: Tribunnews.com

Senin, 30 Desember 2013

CERPEN_Pintu Hati

Ingin tahu cerpen pertama saya yang dimuat di majalah sekolah?
Setelah ubek-ubek kardus dan file di komputer akhirnya kutemukan juga. hehe :D
Ini dia..



Suasana pagi itu benar-benar berbeda. Hawa dingin mulai menyelimutiku dan tak terdengar lagi suara yang biasanya melantunkan bacaan aneh. Kemanakah orang-orang yang ada di masjid? Apa… mereka sudah bersiap-siap menghancurkan tank-tank kami?” Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku, tapi.. ah biarlah, toh mereka juga akan membunuhku.
Suara pintu besi terbuka pelan-pelan dan hentakan kaki semakin jelas terdengan oleh kedua telingaku. “Pasti salah satu dari kami akan keluar dari sini,” gumamku. Oh, ternyata dugaanku salah! Seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun datang membawa nampan berisikan roti. Ia pun membagi-bagikan kepada tahanan lain, sepotong demi sepotong dan akhirnya tiba juga ia di selku.
“Ini roti untukmu, ya Ajam (orang asing),” kata anak itu.
“La..lalu kemanakah wanita berjilbab lebar yang biasanya mengantarkan roti itu?” Aku bertanya dengan gugup. “Ia telah berjanji akan membacakan surat berikutnya meski aku tak tahju maksud dari kata-kata itu,”
“Dia ummiku. Memang, ia selalu membaca ayat-ayat suci al-Qur’an setelah shalat subuh dan akhirnya kau ingin mendengarkanya. Namun, ia telah pergi ke tempat yang jauh kemarin malam akibat sebuah bom meledak di kamp paling pojok daerah anak ini.” Jawab anak itu.
“Secepat itukah? Mengapa ia ada di sana?”
“Ummi mengobati para pejuang yang terluka akibat berperang dengan tentara kalian. Dan ternyata Allah berkehendak demikian. Ah, sekarang aku sendiri hidup bersama anak yatim piatu lainya. Aku tak mengerti, mengapa kalian senang menjajah daerah kami. Padahal kalian mempunyai wilayah yang lebih berkembang daripada wilayah kami.”
Hatiku pun tersentak mendengar kata-kata bocah itu. memang benar, aku sebagai tentara Israel hanya menjalankan perintah, tapi dari dasar manakah kami berhak merebut hak-hak mereka? Mereka terlalu suci untuk kami bunuh. Ya Tuhan…. Apa maksud semua ini? Sebenarnya manakah yang benar? Hatiku pun benar-benar kacau saat ini.
“Permisi, Ajam. Setelah ini aku mempunyai tugas yang lebih penting.” Kata anak itu membuyarkan lamunanku.
“Tunggu! Panggilkan para syekh. Aku akan masuk kedalam agama kalian.” Kataku. Ya Allah… semoga ini adalah jawaban dari smeua pertanyaanku. Kemudian aku dibawa ke sebuah tempat yang bersih dan nyaman, lalu aku pun dituntun membaca dua kalimat syahadat.
“Asyhadun an laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
Alhamdulillah …